Webinar DGB UI Policy Brief – Quo Vadis Ketahanan Pangan, Gizi, dan Budaya Konsumsi?
Kegiatan webinar Komisi IV Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia (UI) ini dilakukan secara daring pada Rabu, 3 Mei 2023, pkl 09:00 s/d 12:00 yang bertujuan sebagai bahan untuk penyusunan Policy Brief DGB UI terkait SDGs12.
Meskipun Badan Pangan Nasional telah memastikan bahwa Indonesia memiliki cadangan pangan yang cukup untuk memenuhi konsumsi masyarakat, upaya menjaga stok pangan nasional jangka panjang tetap perlu digalakkan, salah satunya melalui perubahan budaya konsumsi masyarakat (Herman, 2022). Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia dalam keragaman biodiversitas dengan 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, dan 110 jenis rempah dan bumbu (Catriana, 2022). Hal ini menunjukkan Indonesia memiliki banyak sumber pangan alternatif yang bisa dikonsumsi. Mengapa lalu kita belum memanfaatkan potensi demikian besar. Bagaimana kita mampu mengoptimalkan potensi sumber-sumber pangan tersebut, sehingga ketahanan pangan nasional akan tetap terjaga dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.
Saat ini, mayoritas masyarakat Indonesia sangat mengandalkan nasi sebagai sumber karbohidrat (Pangannews.id, 2022). Padahal, hanya mengandalkan satu komoditas saja itu berisiko. Setiap daerah memiliki karakteristik lahan yang berbeda-beda, sehingga sangat mungkin satu komoditas tertentu berhasil ditanam di lahan tertentu dan gagal di lahan lain (Pangannews.id, 2022). Memaksa untuk tetap menanamnya akan membuat hasil produksi menjadi tidak bagus (Pangannews.id, 2022) yang berakibat pada kurangnya gizi yang terkandung dalam komoditas tersebut, sehingga berefek pada kualitas SDM yang tidak bagus juga. Selain itu, tantangan climate change bisa mengancam produktivitas sawah (Pangannews.id, 2022), sehingga akan merusak kualitas komoditas pangan yang dihasilkan dari ekosistem sawah. Penganekaragaman konsumsi pangan bisa menjadi solusi untuk pemenuhan gizi yang variatif dan seimbang (Herman, 2022). Melalui Badan Pangan Nasional, berbagai upaya dan imbauan telah dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan nasional melalui perubahan budaya pangan dan konsumsi masyarakat. Pertama adalah gerakan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) yang bertujuan untuk mengajak masyarakat mengenal ragam jenis pangan lokal, mencoba, sampai memanfaatkannya sebagai pangan alternatif, dan semakin mengetahui seperti apa pola konsumsi yang seimbang serta aman (Herman, 2022). Gerakan tersebut diluncurkan karena stabilitas dan ketersediaan pangan nasional harus ditopang dengan ekosistem pangan kuat serta kesadaran masyarakat mengonsumsi pangan beragam agar tidak menimbulkan ketergantungan pada satu komoditas pokok saja (Herman, 2022).
Keynote Speaker Bapak Hilmar Farid, Ph.D. – Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek R.I.
Judul: Kebudayaan untuk pangan berkelanjutan. Ancaman krisis pangan yang dihadapi dunia sebagai akibat perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan memerlukan langkah untuk mengantisipasinya secara tepat. Agenda yang harus dikerjakan selain dengan membangun infrastruktur dan meningkatkan kapasitas produksi juga dengan mengurangi ketergantungan pada inudustri pangan global. Indonesia mempunyai banyak pilihan dengan diversifikasi pangan yang tersebar di kepulauan yang luas ini. Warga masyarakat perlu diperkenalkan kembali pada praktik pengetahuan dan kearifan lokal dalam rangka membudidayakan sumber pangan melalui jalur pendidikan formal maupun informal dan aksi kebudayaan.
Pembicara:
1. Prof. Dr. Arif Satria, SP., M.Si. – Rektor Institut Pertanian Bogor
Judul: Keanekaragaman Hayati dan Ketahanan Pangan Nasional. Kebijakan penyeragaman pola pangan masyarakat Indonesia terbukti menyebabkan kelangkaan pangan dan harus mengimpor pangan dari luar negeri.
2. Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto – Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.
Judul: Pangan dan Budaya Konsumsi Masyarakat Indonesia. Ketahanan pangan sebuah bangsa tidak terlepas dari pola makan dan budaya makan mereka. Kegemaran anak muda Indonesia yang menkonsumsi produk Fast food, makanan cepat saji produk asing berpotensi melemahkan ketahanan pangan Indonesia.
3. Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH – Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI
Judul: Pola Konsumsi Pangan, Gizi, dan Kesehatan Masyarakat. Indonesia diidentifikasi menjadi negera ke-5 yang dibebani anak dengan pertumbuhan yang kurang dari standar pertumbuhan pada umumnya. Terhambatnya pertumbuhan anak dari segi fisik maupun nalar kognitifnya disebabkan oleh karena kekurangan Gizi. Gizi yang baik terkait erat dengan pengadaan pangan.




